<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>⁠Studi Greenblue Arsip - Generasi Lintas Budaya Foundation</title>
	<atom:link href="https://greenbluehub.id/category/%e2%81%a0studi-greenblue/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://greenbluehub.id/category/⁠studi-greenblue/</link>
	<description>Menghidupkan budaya bangsa Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 06 May 2026 08:10:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://greenbluehub.id/wp-content/uploads/2026/05/cropped-Logo-Greenbluehub-32x32.webp</url>
	<title>⁠Studi Greenblue Arsip - Generasi Lintas Budaya Foundation</title>
	<link>https://greenbluehub.id/category/⁠studi-greenblue/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Mencegah Gajah Mati Meninggalkan Film</title>
		<link>https://greenbluehub.id/%e2%81%a0studi-greenblue/mencegah-gajah-mati-meninggalkan-film/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Generasi Lintas Budaya]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Aug 2023 11:45:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[⁠Studi Greenblue]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://greenbluehub.id/?p=7493</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kemala Atmojo Peminat Filsafat, Hukum, dan Seni Akhir pekan lalu, oleh salah seorang kenalan dari Yayasan Generasi Lintas Budaya, saya diundang untuk mengikuti Zoom meeting tentang gajah Asia yang semakin langka dan rencana pembuatan feature film soal itu di Indonesia. Ah, rupanya esok harinya adalah peringatan Hari Gajah Sedunia (World Elephant Day). Hadir antara lain [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://greenbluehub.id/%e2%81%a0studi-greenblue/mencegah-gajah-mati-meninggalkan-film/">Mencegah Gajah Mati Meninggalkan Film</a> pertama kali tampil pada <a href="https://greenbluehub.id">Generasi Lintas Budaya Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em>Kemala Atmojo Peminat Filsafat, Hukum, dan Seni</em></p>
<p>Akhir pekan lalu, oleh salah seorang kenalan dari Yayasan Generasi Lintas Budaya, saya diundang untuk mengikuti Zoom meeting tentang gajah Asia yang semakin langka dan rencana pembuatan feature film soal itu di Indonesia. Ah, rupanya esok harinya adalah peringatan Hari Gajah Sedunia (World Elephant Day).</p>
<p>Hadir antara lain Ananda Hutapea, salah seorang pentolan Kitong Internasional, sebuah organisasi nirlaba yang kini mendunia. Lalu ada Travis Cloyd, salah seorang produser independen dari Amerika Serikat. Rencana judulnya “Elephant Wild”. Menurut Travis, salah seorang advokat hak-hak hewan untuk Clint Eastwood yang sudah membaca skripnya, “Elephant Wild adalah kisah yang menarik dan akan membawa perhatian pada situasi mengerikan yang dihadapi gajah di Indonesia dan Thailand dan diharapkan film tersebut mengaktifkan gerakan global untuk mengubah praktik perlakuan kita kepada gajah menjadi lebih manusiawi.”<br />
Lalu, Rowdy Herrington, sang sutradara, berharap: “Ketika anak-anak dan keluarga mereka menonton film ini, mereka akan menyadari tanggung jawab yang kita miliki terhadap perlindungan satwa liar dan lahan liar untuk mendukung satwa tersebut. Kami akan melakukannya dengan menggunakan citra yang dihasilkan dari komputer (CGI). Ini untuk menciptakan efek situasi yang dihadapi makhluk luar biasa itu. Sama seperti film Free Willy yang membantu mengubah persepsi publik tentang paus Orca yang ditangkap. Tujuan kami adalah menjadikan Elephant Wild sebagai katalis bagi kesadaran global dan perubahan perilaku yang diperlukan untuk menyelamatkan gajah Asia dari kepunahan.”</p>
<p>Inti cerita film fiksi ini adalah soal usaha menyelamatkan anak gajah yang sedang diculik oleh sejumlah orang tak bertanggung jawab. Film ini akan akan mengajak penonton bertualang melihat Pelabuhan Kuala Tanjung, Tangkahan, dan Barumun Nagari untuk menyelamatkan anak gajah. Kita juga akan dibawa menikmati keindahan alam Danau Toba, kemegahan Jakarta, hiruk pikuk kota Medan, dan kesibukan Kawasan Pelabuhan Kuala Tanjung. Kita juga akan menikmati kedamaian yang ditawarkan oleh Barumun Nagari dan Tangkahan.</p>
<p>Film yang sarat dengan CGI dan VFX itu untuk meminimalkan pemakaian gajah sungguhan dalam proses pengambilan gambar. Teknologi mutakhir akan membantu menciptakan digital twin dari gajah-gajah Sumatera yang nantinya bisa dijadikan asset library dan dipergunakan untuk promosi lokasi-lokasi wisata Danau Toba maupun sebagai sarana pendidikan tentang gajah Sumatera.</p>
<p>Ya, bagus saja. Silakan saja segera shooting, kata saya dalam hati. Tinggal ikuti saja prosedur atau aturan yang berlaku bagi orang asing yang hendak melakukan pembuatan film di Indonesia. Apalagi, menurut Ananda Hutapea, mengutip data dari Forum Jurnalis Lingkungan (FJL) Aceh, populasi gajah Sumatera saat ini tinggal sekitar 1.600 hingga 2.000 ekor yang tersebar di provinsi Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Simatera Selatan, Bengkulu, dan Lampung. Sementara dari Forum Konservasi Gajah Indonesia, jumlah piopulasi di Kalimatan Utara sekitar 20 hingga 80 ekor. Jadi, ya, cukup memprihatinkan.<br />
Rencananya, film ini akan diproduksi oleh Elephant Wild, LLC, akhir tahun ini dan diharapkan pada 2024 film tersebut dapat membuat banyak orang menaruh perhatian pada krisis yang dihadapi populasi Gajah di Asia Tenggara. Negara-negara Asia kini memang sedang bergulat dengan masalah mengerikan seperti hilangnya habitat, konflik manusia-gajah, perburuan gading, perdagangan bagian tubuh, dan penculikan yang menyayat hati. Elephant Wild, LLC memiliki misi untuk mengubah perspektif dunia tentang spesies yang terancam punah ini. Melalui film ini, mereka ingin menciptakan gerakan global, meningkatkan kesadaran dan mendorong perlakuan yang manusiawi terhadap gajah Asia.</p>
<p>Jadi, perlindungan gajah ini sangat penting, Gajah adalah spesies ikonik dan penting dalam ekosistem. Gajah, misalnya, merupakan bagian penting dari ekosistem hutan dan savana di berbagai wilayah di dunia. Mereka berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem dengan membantu menyebarkan biji-biji tanaman melalui kotoran mereka, serta membantu membentuk dan merawat habitat-habitat tertentu. Maka, melindungi mereka juga membantu menjaga keseimbangan ekosistem secara keseluruhan. Jika gajah punah, itu dapat mengganggu rantai makanan dan mempengaruhi populasi spesies lainnya.</p>
<p>Namun, kini gajah benar-benar menghadapi banyak ancaman, termasuk perburuan ilegal untuk gading, hilangnya habitat alami akibat deforestasi dan perluasan pertanian, serta konflik dengan manusia karena persaingan sumber daya. Oleh karena itu, upaya perlindungan gajah sangat penting untuk memastikan kelangsungan hidup mereka dan menjaga keseimbangan ekosistem global.</p>
<p>Di Indonesia, gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dan gajah Kalimantan (Elephas maximus borneensis) adalah dua subspesies gajah Asia yang dilindungi. Keduanya terancam punah akibat perburuan ilegal, hilangnya habitat, dan konflik dengan manusia. Beberapa langkah yang telah diambil untuk melindungi gajah di Indonesia termasuk pembentukan Kawasan Lindung dan Taman Nasional. Pemerintah Indonesia telah mendirikan berbagai kawasan lindung dan taman nasional di mana gajah dapat hidup dan berkembang biak secara alami. Beberapa contoh termasuk Taman Nasional Way Kambas di Lampung, Taman Nasional Gunung Leuser di Sumatera Utara, dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan di Sumatera.</p>
<p>Penegakan hukum juga perlu dilakukan untuk mengatasi perburuan ilegal gajah dan perdagangan ilegal gading gajah. Hal ini tentunya harus melibatkan kerjasama antara pihak berwenang, kepolisian, dan organisasi-organisasi konservasi. Lalu program pendidikan dan kesadaran masyarakat juga penting untuk mengubah sikap dan perilaku manusia terhadap gajah. Melalui kampanye edukasi, masyarakat diajak untuk mendukung upaya perlindungan gajah dan mengurangi konflik dengan hewan ini. Riset dan monitoring juga penting untuk pemantauan populasi gajah agar kita dapat memahami lebih baik kebutuhan ekologi mereka, serta untuk merancang strategi perlindungan yang efektif. Intinya, perlindungan gajah ini memerlukan usaha berkelanjutan yang melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah, organisasi konservasi, masyarakat lokal, dan masyarakat internasional.</p>
<p>Dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia, gajah bukan hal yang aneh. Juga dalam budaya dan agama. Misalnya, dalam agama Hindu-Buddha, gajah dianggap sebagai simbol kekuatan dan kebijaksanaan. Patung-patung gajah sering ditemukan di situs-situs candi. Juga gajah beneran yang ada di Taman Wisata Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Jika kita pergi ke Bali, misalnya, kita akan mudah menemukan berbagai patung yang melambangkan gajah.</p>
<p>Jadi, mari kita selamatkan gajah. Jangan sampai nanti gajah Asia punah dari Indonesia dan kita hanya bisa menyaksikannya dalam film. Kalau sampai hal itu terjadi, peribahsa lama “manusia mati meningalkan nama, harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading” bisa-bisa berubah dengan ungkapan baru yang sinikal: “Gajah Mati Meninggalkan Film”. Ayo, selamatkan gajah Asia!</p>
<p>Artikel <a href="https://greenbluehub.id/%e2%81%a0studi-greenblue/mencegah-gajah-mati-meninggalkan-film/">Mencegah Gajah Mati Meninggalkan Film</a> pertama kali tampil pada <a href="https://greenbluehub.id">Generasi Lintas Budaya Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>NASIONALISME BUDAYA  HadiTjahjanto Menteri ATR/Kepala BPN Berbalas Pantun Dengan Marcella Zalianty</title>
		<link>https://greenbluehub.id/%e2%81%a0studi-greenblue/nasionalisme-budaya-haditjahjanto-menteri-atr-kepala-bpn-berbalas-pantun-dengan-marcella-zalianty/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Generasi Lintas Budaya]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Jun 2023 12:20:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[⁠Studi Greenblue]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://greenbluehub.id/?p=7466</guid>

					<description><![CDATA[<p># Raja Asdi-Penggiat Budaya Menanam “Pohon Kebangsaan” Pergi ke pekan menumpangbendi Kusir memegang tali kendali Alangkah senang bertemu Pak Menteri Hadi Orangnya ganteng baik budi sekali   Pagi hari kedatangan Marcella diskusi menarik penuh faedah alam dirawat dan kita bela agar lestari, nyaman dan indah &#160; Marsekal TNI (Purn) Dr. (HC) HadiTjahjanto, S.I.P dilantik Presiden [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://greenbluehub.id/%e2%81%a0studi-greenblue/nasionalisme-budaya-haditjahjanto-menteri-atr-kepala-bpn-berbalas-pantun-dengan-marcella-zalianty/">NASIONALISME BUDAYA  HadiTjahjanto Menteri ATR/Kepala BPN Berbalas Pantun Dengan Marcella Zalianty</a> pertama kali tampil pada <a href="https://greenbluehub.id">Generasi Lintas Budaya Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong># Raja Asdi-Penggiat Budaya Menanam “Pohon Kebangsaan”<br />
</strong></p>
<hr />
<blockquote><p><em>Pergi ke pekan menumpangbendi</em></p>
<p><em>Kusir memegang tali kendali</em></p>
<p><em>Alangkah senang bertemu Pak Menteri Hadi</em></p>
<p><em>Orangnya ganteng baik budi sekali</em></p></blockquote>
<p><em> </em></p>
<blockquote><p><em>Pagi hari kedatangan Marcella</em></p>
<p><em>diskusi menarik penuh faedah</em></p>
<p><em>alam dirawat dan kita bela</em></p>
<p><em>agar lestari, nyaman dan indah</em></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Marsekal TNI (Purn) Dr. (HC) HadiTjahjanto, S.I.P dilantik Presiden Joko Widodo 15 Juni2022 menjalankan amanah untuk rakyat dan untuk Indonesia,</p>
<p>Hadi Tjahjanto langsung bergerak cepat melakukan terobosan diantaranya, agar ATR/BPN dekat di hati masyarakat, meningkatkan pelayanan Tanah Akhir Pekan (PELANTARAN), responsif terhadap kritikan dan saran masyarakat, menyediakan nomor hotline pengaduan, dan Forkompimda Plus dengan seragam baru pangkat di pundak disertai tongkat komando untuk memacu gerak optimis aparatur ATR/BPN. Rakernas yang dihadiri sekitar seribu orang dari Kanwil-Kantah seluruh Indonesia dilakukan pada Rabu 27 Juli 2022 di Jakarta.</p>
<p>Panglima TNI 2017-2021 tersebut sangat memahami, dalam beberapa tahun belakangan ini arus kebebasan seluruh media semakin tak terbendung, sehingga rentan terhadap pelbagai isu kecurigaan, prasangka, salah asumsi, salah tafsir, yang seluruhnya berakhir pada salah simpul yang berujung pada salah paham yang bisa bermuara pada konflik. Maka dalam situasi dan kondisi seperti ini dirasa perlu pendekatan komunikasi nasionalisme budaya.</p>
<p>Pada saat membuka rakernas, ada yang menarik perhatian penulis ketika Menteri ATR/Kepala BPN membuka rakernas dengan pantun motivasi:</p>
<p>&nbsp;</p>
<blockquote><p><em>Pergi berdinas ke Kalimantan</em></p>
<p><em>singgah di Kota Waringin Barat</em></p>
<p><em>melalui Rakernas kita kuatkanbarisan</em></p>
<p><em>bersama kita melayani masyarakat.</em></p></blockquote>
<p><em> </em></p>
<p>Pantun tersebut sebagai upayamerawatnasionalisme budaya mengubah pola komunikasi formal menjadi komunikasi kearifan. Pantun merupakan kekayaan budaya nusantara, yang sudah ditetapkan Unesco sebagai warisan budaya tak-benda indonesia.</p>
<p>HadiTjahjanto selalu taktis dengan &#8220;amunisi&#8221; pantun ketika kunjungan kerja, bertemu masyarakat adat, lintas agama di berbagai daerah atau saat menerima tamu dari berbagai kalangan masyarakat di kantornya.</p>
<p>Melalui pantun HadiTjahjanto dapat melakukan diplomasi komunikasi budaya dengan berbagai kalangan yang sedang berkonflik di bidang Pertanahan. Pantun penuh makna dapat mencairkankebuntuan komunikasi di antara para pihak yang berkonflik.</p>
<p>Penulis bersama rekan-rekan diterima HadiTjahjanto Menteri ATR/Kepala BPN jumat 9 juni 2023 dalam rangka <strong>MuhibahBahana Kebangsaan Bersatu Bergotong Royong Merawat Bunda Alam baik di Alam Maya maupun di alam nyata kita jaga alam, alam jaga kita.</strong></p>
<p>Paparan yang disampaikan Dr. Benny Soesatyo, Raja Asdi, Media Marlina, Eko, Melisa dari Yayasan Generasi Lintas Budaya, Marcella Zalianty, Gunawan, Ade Muftin mewakili Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi56) dan Maret Samuel SuekenKetum Jaringan Pendamping Kebijakan Pembangunan (JPKP) dibuka dengan pantun oleh perwakilan yang hadir:</p>
<p><em> <img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-full wp-image-90392 aligncenter" src="https://www.majalahagraria.today/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-14-at-13.16.02.jpg" alt="" width="540" height="540" /></em></p>
<blockquote><p><strong>Bumi ini tak hanya warisan, tetapi sesuatu yang akan diwariskan. </strong></p>
<p><strong>Tanamlah pohon, maka kita akan </strong></p>
<p><strong>mempersembahkan tanah, air dan udara yang ramah</strong></p>
<p><strong>bagi generasi yang akan datang </strong></p></blockquote>
<p>Kemudian Menteri Hadi menyampaikan pantun :</p>
<blockquote><p><em>Siang Hari Makan Sate Senayan</em></p>
<p><em>Langsung Cicipi Buah Rambutan</em></p>
<p><em>Mari Bersama Jaga Lingkungan</em></p>
<p><em>Melalui Pembangunan Yang Berkelanjutan.</em></p></blockquote>
<p><em> </em></p>
<p>Selanjutnya Menteri Hadi menyampaikan kebutuhan lahan guna memenuhi kebutuhan pangan nasional, ia memberi contoh bahwa kebutuhan pangan nasional kita masih impor pisang dan lain-lain. Untuk memenuhi kebutuhan lahan pertanian untuk ditanami berbagai tanaman pangan tersebut, Kementerian ATR/BPN mendukung penuh pemanfaatan lahan di seluruh indonesia untuk rakyat dan untuk indonesia dan Jabodetabekpunjur sebagai daerah penyangga Jakarta. Hal tersebut sesuai arahan Presiden Joko Widodo sebagai wujud kerja nyata merawat bunda alam untuk mengantisipasi perubahan iklim dunia.</p>
<p>Pantun Marcella Zalianty :</p>
<blockquote><p><em>Semai benih tanamlah bibit</em></p>
<p><em>tumbuhnya subur batang-berbatang</em></p>
<p><em>udara bersih bebas dari penyakit</em></p>
<p><em>harapan hidup semua orang</em></p></blockquote>
<p><em> </em></p>
<blockquote><p><em>Hijaukan taman sekitar kita</em></p>
<p><em>indah serasi cegaherosi</em></p>
<p><em>jauhkanpetaka dan bencana</em></p>
<p><em>mengancam melanda bumi</em></p></blockquote>
<p><em> </em></p>
<blockquote><p><em>Bila hendak menanam bunga</em></p>
<p><em>ambil cangkul gemburkan tanahnya</em></p>
<p><em>bila hendak jauhkan bencana</em></p>
<p><em>jagalah alam pelihara ekosistemnya</em></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pantun Menteri Hadi:</p>
<blockquote><p><em>Pagi hari bernyanyi Indonesia Raya</em></p>
<p><em>lagu kebangsaan negara kita</em></p>
<p><em>saya dukung generasi lintas budaya</em></p>
<p><em>semoga bermanfaat untuk semua</em></p></blockquote>
<p>Menteri ATR/Kepala BPN dan tim Muhibah Bahana Kebangsaan Merawat Bumi Pertiwi menutup pertemuan dengan berbalas pantun.</p>
<p><em> </em></p>
<blockquote><p><em>Tinggi-tinggi si pohon ulim</em></p>
<p><em>lindungi kerakap tumbuh di batu</em></p>
<p><em>kenali cermati perubahan iklim</em></p>
<p><em>cuaca bergerak tak menentu</em></p></blockquote>
<p><em> </em></p>
<blockquote><p><em>Kayu rengas dilanda musim</em></p>
<p><em>daun di ranting jadi mengering</em></p>
<p><em>gelombang panas datang ekstrim</em></p>
<p><em>sawah ladang menjadi kering</em></p></blockquote>
<p><em> </em></p>
<blockquote><p><em>Gulai bersantan langsung disantap</em></p>
<p><em>cuci piring basuhlah tangan </em></p>
<p><em>generasi lintas budaya keren dan mantap</em></p>
<p><em>bersama dukung kelestarian lingkungan</em></p></blockquote>
<p><em> </em></p>
<blockquote><p><em>Pergi ke Bagan beli terasi</em></p>
<p><em>Enak dimasak bersama kangkung</em></p>
<p><em>generasi lintas budaya sungguh menginspirasi</em></p>
<p><em>Kementerian ATR/BPN siap mendukung</em></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menteri HadiTjahjanto Menerima Buku dari Marcella Zalianty</p>
<p><strong>Green and Blue Constitution Buku Pertama di Dunia Karya Prof. Dr.JimlyAssiddiqie, SH </strong></p>
<p>Menteri Hadi Tjahjanto Menerima <strong>Novel Melati Patah Janji Kisah Nyata Roman Sejarah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia 1948-1949</strong></p>
<p>Dalam Rangka Membela Negara, <strong>karya Iswati</strong></p>
<p><strong><img decoding="async" class="size-full wp-image-90291 aligncenter" src="https://www.majalahagraria.today/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-09-at-17.43.16-2.jpg" alt="" width="800" height="533" /></strong></p>
<p><strong>Turut dihadiri Ir. SuyusWindayana, M.App.Sc. Direktur Jenderal Hubungan Hukum Keagrariaan, M. Adli Abdullah Staf Kusus Menteri, Yulia Jaya Nirmawati, Kepala Biro Humas Kementerian ATR/BPN</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img decoding="async" class="size-full wp-image-90290 aligncenter" src="https://www.majalahagraria.today/wp-content/uploads/2023/06/WhatsApp-Image-2023-06-09-at-17.43.16-1.jpg" alt="" width="800" height="533" /></p>
<blockquote><p><em>Ikan baramundi dalam keranjang</em></p>
<p><em>Terasa berat letakkan di kolam</em></p>
<p><em>kite do&#8217;ain Pak Hadi berumur panjang</em></p>
<p><em>biar bise terus merawat bunda Alam</em></p></blockquote>
<p>Silaturahmi Muhibah Kebangsaan diakhiri foto bersama dan Menteri Hadi berkenan menerima buku dari Marcella Zalianty, judul Bersatu Bergotong Royong Merawat Bunda Alam, buku Green and Blue Constitusion karya Prof.Dr. JimlyAssiddiqie,SH dan Novel Roman Sejarah NKRI &#8220;Melati Patah Janji&#8221; karya Iswati</p>
<p><em> </em></p>
<p>Komunikasi nasionalisme budaya membuat diskusi menjadi cair dan penuh makna. Semoga Pola Komunikasi Nasionalisme Budaya Menteri Hadi dapat diimplementasikan ATR/BPN di seluruh indonesia, membangun komunikasi humanismenguraikomplik di tingkat tapak. Tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan komunikasi nasionalisme budaya/humanis</p>
<hr />
<p><strong># Raja Asdi-Penggiat Budaya Menanam “Pohon Kebangsaan”</strong></p>
<p>Artikel <a href="https://greenbluehub.id/%e2%81%a0studi-greenblue/nasionalisme-budaya-haditjahjanto-menteri-atr-kepala-bpn-berbalas-pantun-dengan-marcella-zalianty/">NASIONALISME BUDAYA  HadiTjahjanto Menteri ATR/Kepala BPN Berbalas Pantun Dengan Marcella Zalianty</a> pertama kali tampil pada <a href="https://greenbluehub.id">Generasi Lintas Budaya Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>MENSYUKURI DUA DEKADE, MAARIF INSTITUTE LUNCURKAN BUKU PERJALANAN LEMBAGA</title>
		<link>https://greenbluehub.id/%e2%81%a0studi-greenblue/mensyukuri-dua-dekade-maarif-institute-luncurkan-buku-perjalanan-lembaga/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Generasi Lintas Budaya]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 31 May 2023 03:55:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[⁠Studi Greenblue]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://greenbluehub.id/?p=7392</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tahun ini, usia MAARIF Institute genap 20 tahun. Di usianya hari ini, MAARIF Institute sejak awal berdirinya teguh berkomitmen menjadi salah satu pilar bangsa yang bergerak untuk kerja-kerja kemanusiaan, merawat kebinekaan, mendorong penegakan HAM, memperjuangkan kebebasan beragama dan mensosialisasikan watak dan ciri khas Islam Indonesia sebagai agama rahmatan lil al-alamin, inklusif, dan toleran serta memiliki [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://greenbluehub.id/%e2%81%a0studi-greenblue/mensyukuri-dua-dekade-maarif-institute-luncurkan-buku-perjalanan-lembaga/">MENSYUKURI DUA DEKADE, MAARIF INSTITUTE LUNCURKAN BUKU PERJALANAN LEMBAGA</a> pertama kali tampil pada <a href="https://greenbluehub.id">Generasi Lintas Budaya Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun ini, usia MAARIF Institute genap 20 tahun. Di usianya hari ini, MAARIF Institute sejak awal berdirinya teguh berkomitmen menjadi salah satu pilar bangsa yang bergerak untuk kerja-kerja kemanusiaan, merawat kebinekaan, mendorong penegakan HAM, memperjuangkan kebebasan beragama dan mensosialisasikan watak dan ciri khas Islam Indonesia sebagai agama rahmatan lil al-alamin, inklusif, dan toleran serta memiliki kesesuaian dengan demokrasi yang berpihak kepada keadilan.<br />
Dalam rangka mensyukuri dua dekade tersebut, MAARIF Institute luncurkan buku&#8221;Katalisator Perekat Kebinekaan Membangun Generasi Inklusif&#8221;. Buku yang ditulis oleh Abdul Mu&#8217;ti (PP. Muhammadiyah), Musdah Mulia (Aktivis Perempuan), Alissa Wahid (Jaringan Gusdurian), dan kawan-kawan lainnya yang juga menjadi kolega MAARIF Institute ini berkisah tentang perjalanan lembaga dalam mengawal pikiran-pikiran Buya Syafii tentang keindonesiaan, keagamaan dan kemanusiaan yang tujuannya tidak lain untuk menampilkan karakter bangsa yang moderat.<br />
Acara yang digelar di Aula Ahmad Dahlan, Lt. 1 Gedung Dakwah PP. Muhammadiyah, Jl.Menteng Raya No. 62 Jakarta Pusat ini, dihadiri oleh sejumlah narasumber, antara lain: Musdah Mulia (Penulis Buku Ensiklopedia Muslimah Reformis), Jack Manuputty (Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja), M. Wahyuni Nafis (NCMS) dan DesvianBandarsyah (UHAMKA). Acara ini dipandu oleh Moh. Shofan (Direktur Program MAARIF Institute).<br />
Suyoto, Pengurus Yayasan Ahmad Syafii Maarif, dalam sambutan pembuka, menyampaikan rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena diusia dua dekade ini, MAARIF Institute telah berkomitmen untuk menyebarluaskan gagasan-gagasan Buya Syafii. Hal ini, menurutnya, tentu tidak mudah di tengah tantangan dan dinamika berbagai ragam persoalan yang berkembang di tanah air.<br />
&#8220;Selamat ulang tahun MAARIF Institute, Semoga Tuhan terus memudahkan perjalanan MAARIF untuk tidak berhenti berkarya serta menerangi perjalanan bangsa&#8221;, pungkas Suyoto.</p>
<p>Abd.Rohim Ghazali, Direktur Eksekutif MAARIF institute, dalam sambutannya juga mengatakan bahwa apa yang kini dikembangkan oleh MAARIF Institute selama 20 tahun terakhir ini, tidak lain merupakan ikhtiar untuk merealisasikan gagasan besar Buya Syafii yang terangkum dalam konsep keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan.<br />
&#8220;Sebagaimana layaknya sebuah organisasi, tentu masih ada kekurangan dan ketidaksempurnaan yang bisa dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk proyeksi ke sangat cepat. Salah satu pendorong perubahan adalah revolusi teknologi informasi dan telekomunikasi, di mana pada satu sisi kesempatan setiap orang dengan mudah mendapatkan informasi secara terbuka, seiring bertumbuhnya masyarakat yang lebih demokratis, toleran, dan berkeadilan&#8221;, terang Rohim.<br />
Rohim menambahkan, “Buya Syafii sudah meninggalkan kita setahun yang lalu. Kita semua menjadi pewaris, bukan hanya pemikiran-pemikiran Buya Syafii yang sangat brilian dan kritis dalam menyoroti masalah-masalah bangsa, tetapi juga mewarisi keteladanan dan kesederhanaan. Kita bukan sekedar mengenang tapi juga bagaimana bisa melanjutkan pemikiran Buya Syafii&#8221;.<br />
Sementara, narasumber pertama, Musda Mulia dalam paparannya, mengatakan,“Sebagai orang yang sering dilibatkan dalam berbagai program MAARIF Institute,menurut hemat saya, hal paling menonjol dilakukan oleh MAARIF Institute selama dua dekade kehadirannya adalah upaya-upaya pencerdasan bangsa melalui program penguatan literasi agama&#8221;, ujarnya.<br />
Musdah melanjutkan, hakikatnya, ini adalah kerja-kerja pemerintah sesuai tujuan bernegara, di antaranya mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, kita semua sadar,pemerintah memiliki banyak keterbatasan sehingga masyarakat sipil diharapkan berpartisipasi aktif membangun bangsa. Di sinilah MAARIF Institute menunjukkan kepeduliannya sebagai elemen masyarakat sipil yang berkiprah untuk kecerdasan bangsa dan kemajuan peradaban manusia.<br />
Sementara Jacky Manuputty, melihat bahwa selama dua dekade, MAARIF Institute bekerja keras untuk menggerakan gairah intelektualisme dan mengembangkan Islam berkemajuan yang progresif, toleran dan anti kekerasan melalui Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan (SKK) Ahmad Syafii Maarif dan berbagai program lainnya.<br />
“Tantangan MAARIF Istitute setelah dua dekade pengabdiannya tentu tidak ringan. Melembagakan dan menggelorakan gagasan dan keteladanan Buya Syafii melalui manajemen pengetahuan dan pengelolaan tata-laku untuk memperkuat kohesi sosial terus digerus oleh praktek-praktek intoleransi, persekusi, dan narasi kebencian berbasiskan agama yang masih marak terjadi di Indonesia, terutama ketika kita menghadapi tantangan tahun politik menuju ke Pemilihan Umum saat ini&#8221;, terang Jacky.<br />
Dua narasumber lainnya, Wahyuni Nafis dan Desvian Bandarsyah, berharap MAARIF Institute, diharapkan untuk tetap berkomitmen pada wawasan keislaman yang mendasarkan pada kemaslahatan kemanusiaan dan keindonesiaan. “Karena itu, apresiasi pada dua dekade MAARIF Institute ini, sebenarnya kita berikan kepada para penggeraknya&#8221;, ujar Wahyuni Nafis.<br />
Dalam kesempatan itu, tampak hadir Pengurus Yayasan MAARIF Institute, Rizal Sukma, Clara Joewono, M. Amin Abdullah, Suyoto; Associate MAARIF Institute, Ahmad NajibBurhani, Yayah Khisbiyah, serta sejumlah pejabat negara, pengurus pusat Muhammadiyah, Aisyiyah, NA, Pemuda, serta para akademisi, aktivis, awak Media, dan jaringan MAARIF Institute.<br />
Acara yang dihadiri tidak kurang dari 200 orang peserta ini diharapkan bisa menjadi energi baru dalam upaya mensosialisasikan gagasan dan cita-cita sosial Buya Syafii, baik di ranah keislaman, kebangsaan yang mengusung nilai-nilai keterbukaan, kesetaraan dan kebhinnekaan yang dapat diwariskan kepada anak-anak bangsa. []</p>
<p>Artikel <a href="https://greenbluehub.id/%e2%81%a0studi-greenblue/mensyukuri-dua-dekade-maarif-institute-luncurkan-buku-perjalanan-lembaga/">MENSYUKURI DUA DEKADE, MAARIF INSTITUTE LUNCURKAN BUKU PERJALANAN LEMBAGA</a> pertama kali tampil pada <a href="https://greenbluehub.id">Generasi Lintas Budaya Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Selamat tahun baru Imlek 2023</title>
		<link>https://greenbluehub.id/%e2%81%a0studi-greenblue/selamat-tahun-baru-imlek-2023/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Generasi Lintas Budaya]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2023 01:30:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[⁠Studi Greenblue]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://greenbluehub.id/?p=7344</guid>

					<description><![CDATA[<p>Salam hangat di Tahun Baru Imlek untuk anda semua. Semoga tahun ini penuh dengan perayaan dan kesuksesan.</p>
<p>Artikel <a href="https://greenbluehub.id/%e2%81%a0studi-greenblue/selamat-tahun-baru-imlek-2023/">Selamat tahun baru Imlek 2023</a> pertama kali tampil pada <a href="https://greenbluehub.id">Generasi Lintas Budaya Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Salam hangat di Tahun Baru <em>Imlek</em> untuk anda semua. Semoga tahun ini penuh dengan perayaan dan kesuksesan.</p>
<p>Artikel <a href="https://greenbluehub.id/%e2%81%a0studi-greenblue/selamat-tahun-baru-imlek-2023/">Selamat tahun baru Imlek 2023</a> pertama kali tampil pada <a href="https://greenbluehub.id">Generasi Lintas Budaya Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Senja di Rumah Gadang Mufidah Jusuf Kalla</title>
		<link>https://greenbluehub.id/%e2%81%a0studi-greenblue/senja-di-rumah-gadang-mufidah-jusuf-kalla/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Generasi Lintas Budaya]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2022 01:33:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[⁠Studi Greenblue]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://greenbluehub.id/?p=7310</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kisah dari Lintau. Catatan Egy Massadiah Syahdan pada Jumat 21 Oktober 2022, Letjen Pur DR HC Doni Monardo, dalam kapasitas sebagai anggota Dewan Penyantun ISI Padangpanjang memberi kuliah umum di hadapan sekitar 400-an mahasiswa. Acara berlangsung di Gedung Pertunjukan Huriah Adam. Huriah Adam adalah nama maestro tari kelahiran Padangpanjang yang meninggal 10 November 1971. Karena [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://greenbluehub.id/%e2%81%a0studi-greenblue/senja-di-rumah-gadang-mufidah-jusuf-kalla/">Senja di Rumah Gadang Mufidah Jusuf Kalla</a> pertama kali tampil pada <a href="https://greenbluehub.id">Generasi Lintas Budaya Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Kisah dari Lintau. Catatan Egy Massadiah</p></blockquote>
<p>Syahdan pada Jumat 21 Oktober 2022, Letjen Pur DR HC Doni Monardo, dalam kapasitas sebagai anggota Dewan Penyantun ISI Padangpanjang memberi kuliah umum di hadapan sekitar 400-an mahasiswa. Acara berlangsung di Gedung Pertunjukan Huriah Adam. Huriah Adam adalah nama maestro tari kelahiran Padangpanjang yang meninggal 10 November 1971.</p>
<p>Karena tiba sehari sebelumnya, Doni Monardo memanfaatkan waktu untuk “pulang kampung” ke Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar.</p>
<p>Yang istimewa adalah, Doni Monardo mengajak saya mampir ke rumah gadang Ibu Mufidah Jusuf Kalla di Nagari Tanjung Bonai, Kecamatan Lintau Buo Utara, Kabupaten Tanah Datar. Ini adalah kali pertama saya menghirup udara Lintau.</p>
<p>Senja baru saja menjelang, saat menepi di tanah leluhur Mufidah. Sebuah rumah gadang Minangkabau nan cantik dan anggun menyergap pandangan mata saya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Gadang Trend Setter</h3>
<p>Ciri utama rumah gadang terletak pada bentuk atap yang melengkung lancip ke atas menyerupai tanduk. Masyarakat Minang menyebutnya gonjong.</p>
<p>Dua gonjong di kiri, dua gonjong di kanan, dan satu gonjong menjorok ke depan, mengesankan aroma megah. Ornamen di bidang “papan banyak” (dinding luar) didominasi ukiran nuansa coklat.</p>
<p>Dari kerabat Mufidah Jusuf Kalla, Syahrul Udjud, saya beroleh informasi bahwa pembangunannya dilakukan tahun 2003.</p>
<p>“Yang menarik, rumah gadang Ibu Mufidah, akhirnya menjadi trend setter,” ujar Syahrul Udjud, yang juga mantan Walikota Padang dua periode (1983 – 1993).</p>
<p>Untuk diketahui, saya sudah mengenal Syahrul Udjud sejak tahun 1990 an, saat masih menjabat walikota. Kala itu sebagai wartawan saya ikut rombongan Hajjah Siti Hardiyanti Rukmana Soeharto dalam rangka perhelatan Kirab Remaja. Kami dijamu durian di rumah walikota Padang.</p>
<p>Jika Syahrul Udjud menggelari rumah gadang itu menjadi trend-setter, tentu ada alasannya. Ia mengatakan, setelah bangunan itu berdiri, ramai orang Minang bertandang ke sana. Selain untuk melihat dari dekat keindahan rumah gadang, juga tidak sedikit yang kemudian meniru.</p>
<p>Apa yang ditiru? Utamanya pemanfaatan ruang bawah. Sebelum tahun 2003-2004, rumah gadang identik dengan rumah panggung.</p>
<p>Pada bagian bawah, dibiarkan kosong. Kalaupun dimanfaatkan, biasanya untuk gudang. Berbeda dengan rumah gadang Mufidah, yang menutup rapat bagian bawah, dan memanfaatkan bidang yang ada menjadi kamar-kamar.</p>
<p>“Saya beberapa kali tidur di sana, di ruang bawah,” ujar Syahrul Udjud. Ditambahkan, selain kamar-kamar, juga dimanfaatkan untuk tinggal para pegawai yang mengelola dan merawat rumah gadang itu. “Jadi sangat fungsional, tanpa mengubah esensi arsitektur rumah gadang khas Minang,” tambahnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Proses Pembangunan</h3>
<p>Ide pembangunannya muncul tahun 2001 ketika Menko Kesra Jusuf Kalla dan Mufidah JK bersama Mendikbud Malik Fadjar, berkunjung ke Sumbar. Syahrul juga ikut dalam kunjungan itu. Posisinya sebagai Deputi Menko Kesra.</p>
<p>Dalam kunjungan tersebut, JK dan rombongan mampir ke rumah keluarga besar sang istri di Nagari Tanjung Bonai, Kecamatan Lintau Buo Utara. Di lokasi, JK dan istri melihat tanah terhampar luas. Maka tercetuslah ide membangun rumah gadang.</p>
<p>Bupati Tanah Datar Masriadi Martunus (2000-2005) dan Kolonel (Mar) Anshar Miad (adik Mufidah JK) kemudian membuat desain dan rancangan.</p>
<p>Pembangunan dimulai tahun 2003. Syahrul Udjud terkenang, bagaimana JK dan Ibu Mufidah begitu detail mengikuti dan memperhatikan proses pembangunan rumah gadang tersebut. Termasuk ide mengubah space ruang bawah rumah gadang yang kosong.</p>
<p>Awal tahun 2004, JK dan Mufidah kembali berkunjung ke Sumbar. Saat itulah, pasangan Bugis &#8211; Minang ini bersama-sama meresmikan rumah tersebut. Mereka kemudian menaiki rumah gadang dan menginap di sana.</p>
<p>Di rumah gadang itu pula, otoritas adat mengukuhkan gelar datuk ke anak laki-laki satu-satunya pasangan JK-Mufidah, yaitu Solihin Kalla. Sejak itu, ia bergelar Datuk Rajo Panghulu.</p>
<p>Dalam rombongan JK, Rokhmin Dahuri, Menteri Kelautan dan Perikanan yang beristrikan wanita Minang ikut serta. Tampak pula tokoh Minang Azwar Anas, di samping Buya Syafei Ma’arif dan Anregurutta Kyai Haji Sanusi Baco, ulama kharismatik asal Sulawesi Selatan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Pepatah Minang</h3>
<p>Mufidah lahir dari pasangan suami-istri Minang yang juga perantau. Tak heran jika ia lahir di tempat rantauan orang tuanya.</p>
<p>Bernama asli Mufidah Mi&#8217;ad Saad lahir pada 12 Februari 1943 di kota Sibolga, Sumatera Utara. Ia merupakan putri dari H. Buya Mi&#8217;ad (ayah) dan Sitti Baheram (ibu), pasangan asal Lintau Buo, Tanah Datar, Sumatera Barat yang menetap di Sibolga sebelum berpindah ke Makassar, Sulawesi Selatan.</p>
<p>Sekalipun begitu, keluarga Mufidah tidak pernah melupakan kampung halaman. Syahrul Udjud menyebutkan ihwal pepatah Minang yang tetap dipegang teguh, &#8220;adat bersandi syarak, syarak bersandi kitabullah&#8221;.</p>
<p>Falsafah tadi merupakan filosofi hidup masyarakat Minangkabau. Sebuah ajaran yang menjadikan Islam sebagai landasan dan atau pedoman tata pola perilaku dalam berkehidupan.</p>
<p>Dengan kata lain, adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Syarak Mangato, Adat Mamakai, merupakan kerangka atau pola berkehidupan masyarakat Minangkabau seutuhnya. Baik secara horizontal &#8211; vertikal dengan sang maha Pencipta, maupun secara horizontal &#8211; horizontal antar sesama manusia, ataupun dengan makhluk lain di alam semesta.</p>
<p>Taat pada filosofi Minang tadi, pasca berdirinya rumah gadang, Mufidah juga membangun Mesjid Tanjung Bonai. Lokasi masjid kebetulan tidak terlalu jauh dari rumah gadang Mufidah. Mesjid itu diresmikan Jusuf Kalla dan Datuk Solihin JK serta Mufidah JK tahun 2019.</p>
<p>Menurut Syahrul, orang Minang beprinsip, jika sudah sukses di rantau, jangan sampai lupa memperhatikan kampung. Itu pula yang diwujudkan Mufidah dengan membangun rumah gadang dan masjid di Lintau.</p>
<p>Rumah gadang dan masjid adalah simbol dari adat bersandi syarak, syarak bersandi kitabullah. Jika ada urusan kaum atau keluarga bisa dimusyawarahkan di rumah gadang. Jika telah selesai bermusyawarah atau tiba waktu sholat maka mereka segera ke masjid untuk sholat berjamaah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Sekolah Tenun</h3>
<p>Bukan hanya itu wujud kepedulian Mufidah terhadap kampung halaman. Mufidah juga mendirikan Sekolah Tenun di Lintau. Di sekolah tenun itulah para ibu dan kaum remaja warga Sumatera Barat belajar menenun. Kepandaian menenun menjadi sumber tambahan penghasilan keluarga selain dari bertani.</p>
<p>Masyarakat Sumatera Barat antusias dan mengapresiasi pendirian Sekolah Tenun. Di luar aspek sosial dan ekonomi, pendirian Sekolah Tenun sekaligus memiliki makna besar dalam kegiatan pelestarian budaya tenun yang usianya sudah berabad-abad dan hampir dilupakan generasi sekarang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Objek Wisata</h3>
<p>Nah kembali ke Rumah gadang Mufidah Jusuf Kalla di Lintau. Keberadaannya, tak pelak menjadi salah satu destinasi wisata “tak resmi”. Tak jarang, para pelintas berhenti di depan rumah itu untuk sekadar berfoto dan ber-selfie. Maklumlah, objek rumah indah itu memang sangat instagramable.</p>
<p>Sekadar Anda ketahui, Tanah Datar memiliki banyak objek wisata yang memanjakan indera penglihatan. Sebut saja misalnya, Istana Pagaruyung, Danau Singkarak, Benteng Van der Capellen, Panorama Tabek Patah, Kincir Air Talawi, Nagari Tuo Pariangan, Air Terjun Lembah Anai, dan masih banyak lagi.</p>
<p>Tanah Datar juga dikenal sebagai “Nagari” yang paling maju, di samping Koto Gadang di Kabupaten Agam. Dari daerah Tanah Datar juga banyak lahir para pemimpin politik sejak zaman pra kemerdekaan.</p>
<p>“Dokter pertama Indonesia dari Tanah Datar, namanya dr Saleh. Beliau adalah orang tua dari Chaerul Saleh, Ketua MPR RI yang pertama, serta menduduki berbagai jabatan Menteri hingga Wakil Perdana Menteri di era Presiden Sukarno,” papar Syahrul Udjud.</p>
<p>Tokoh Tanah Datar yang lain, di antaranya Ahmad Khatib Datuk Batuah, seorang ulama dan pejuang kemerdekaan Indonesia pada awal abad ke-20.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Kuliner Ikan Sasau</h3>
<p>Selain itu, Tanah Datar juga dikenal sebagai surganya kuliner Minang. Kuliner Tanah Datar, secara khusus banyak diburu para wisatawan yang berkunjung ke Sumatera Barat. Beberapa kuliner khas Tanah Datar di antaranya Pangek Simawang. Pangek Simawang adalah makanan yang menggunakan ikan Sasau khas Danau Singkarak sebagai bahan utama.</p>
<p>Menu lain adalah sate didong. Sekilas mirip sate padang yang Anda sering lihat. Akan tetapi, cita rasanya jauh berbeda. Bahan kuliner yang satu ini dari daging sapi biasa yang ditaburi bawang di atasnya. Sate ini dilumuri kuah kuning yang harum dan memiliki cita rasa mantap.</p>
<p>Yang tak boleh Anda lupakan, adalah dadiah, kuliner khas yang menggunakan susu murni sebagai bahan utama. Olahan susu kerbau yang sebelum dikonsumsi dimasukkan terlebih dahulu ke dalam tabung bambu. Biasanya dadiah dihidangkan bersama ampiang dan gula enau yang terkenal sehat dan legit. Saat mampir di rumah kerabat Doni Monardo, saya sempat mencicipi dadiah. Rasanya mirip keju.</p>
<p>Tentu masih sangat banyak menu lain yang bakal menggoyang lidah Anda. Itu pula yang membuat saya ingin kembali ke sana. Selain singgah di Rumah Gadang Mufidah Jusuf Kalla, sekaligus berburu kuliner lezat khas Minang di kesejukan hawa Lintau, Tanah Datar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Sarang Hujan</h3>
<p>Bicara Tanah Datar tempat rumah gadang Mufidah, kita sontak ingat Padangpanjang. Dua daerah ini hanya berjarak 28 km. Tidak terlalu jauh. Tidak heran jika keduanya memiliki topografi yang relatif sama. “Padangpanjang adalah kota yang berbahagia,” demikian tulis Ali Akbar Navis, pengarang &#8216;Robohnya Surau Kami&#8217; yang fenomenal itu.</p>
<p>Mengutip AA Navis: di sana ada batu kapur yang memberi hidup, ada sawah, ada sungai yang memberi hidup, ada rel kereta yang memberi hidup “walau kadang orang mati juga dilindasnya,” kata Navis lagi.</p>
<p>“Di kota kecil ini,” tulis Navis pula, “air berlebihan. Hingga ke mana pun kita bertandang, perempuan atau gadis-gadis cepat-cepat menyediakan minuman bagi kita.”</p>
<p>Akan halnya Padangpanjang, maka Tanah Datar pun merupakan kota kecil yang berada di kaki gunung-gunung raksasa. Ada Gunung Singgalang di Barat, ada Gunung Marapi di Timur, ada Gunung Tandikek agak ke barat daya.</p>
<p>Untuk kita ketahui bersama, ternyata bukan hanya Bogor yang dikenal sebagai “kota hujan”, tetapi juga Tanah Datar. “We wonen hier in een regennest, Meneer!” kata seorang pelancong Belanda pada akhir abad ke-19. Yang artinya kurang lebih, “Kami tinggal di sarang hujan di sini, pak!”</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Tarian Gempa</h3>
<p>Doni Monardo, pria berdarah Minang yang saya kenal sejak berpangkat Mayor di tahun 97-an itu, pernah menjabat Kepala BNPB 2019-2021. Ia bercerita ihwal keistimewaan rumah gadang. Disebut istimewa karena rumah gadang yang benar, pasti tahan gempa.</p>
<p>Apa daya. Roda zaman terus berputar. Satu per satu, rumah gadang yang berusia di atas 100 tahun, mulai lapuk. Sebagian berhasil direnovasi, sebagian roboh dan diganti konstruksi rumah beton. Karena itu, rumah gadang mulai jarang ditemui di daerah perkotaan. Akan tetapi, Anda bisa menjumpainya di nagari.</p>
<p>Betapa rumah gadang ternyata juga mewarisi kecanggihan leluhur dalam membuat konstruksi rumah tahan gempa.</p>
<p>Kita mengetahui, bahwa Padang (Sumatera Barat) berada di zona subdiksi lempeng Indo-Australia ke bawah lempeng Eurasia. Hal ini memberikan kontribusi tektonik di laut maupun di daratan Pulau Sumatera. Tak heran bila di sana, sering terjadi gempa bumi. Rumah gadang (yang benar) adalah rumah tahan gempa.</p>
<p>Saya mengulik lebih jauh referensi seputar rumah gadang. Ternyata, bangunan rumah tradisional ini dibina dari tiang-tiang panjang. Bangunan rumah dibuat besar ke atas, namun tidak mudah roboh oleh goncangan.</p>
<p>Seluruh tiang Rumah Gadang tidak ditanamkan ke dalam tanah, tetapi bertumpu ke atas batu datar yang kuat dan lebar. Pada pertemuan antara dasar tiang dan batu dilapisi tumpukan ijuk.</p>
<p>Seluruh sambungan setiap pertemuan tiang dan kasau (kaso) besar tidak memakai paku, tetapi memakai pasak yang juga terbuat dari kayu.</p>
<p>Alhasil, saat gempa mengguncang bumi, rumah gadang akan bergeser secara fleksibel seperti menari di atas batu datar tempat tiang itu berdiri. Begitu pula setiap sambungan yang dihubungkan oleh pasak kayu juga bergerak secara fleksibel.</p>
<p>Benar sekali pepatah “alam takambang jadi guru”.</p>
<p>Salam sehat dari Lintau.(*)</p>
<p>Artikel <a href="https://greenbluehub.id/%e2%81%a0studi-greenblue/senja-di-rumah-gadang-mufidah-jusuf-kalla/">Senja di Rumah Gadang Mufidah Jusuf Kalla</a> pertama kali tampil pada <a href="https://greenbluehub.id">Generasi Lintas Budaya Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pimpinan MPR kompak menyanyikan lagu Berkibarlah Bendera Negeriku ciptaan Gombloh</title>
		<link>https://greenbluehub.id/%e2%81%a0studi-greenblue/pimpinan-mpr-kompak-menyanyikan-lagu-berkibarlah-bendera-negeriku-ciptaan-gombloh/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Generasi Lintas Budaya]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Aug 2021 05:47:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[⁠Studi Greenblue]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://greenbluehub.id/?p=7059</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pimpinan MPR kompak menyanyikan lagu Berkibarlah Bendera Negeriku ciptaan Gombloh. #MPR #HUTRI75 #Berkibarlah</p>
<p>Artikel <a href="https://greenbluehub.id/%e2%81%a0studi-greenblue/pimpinan-mpr-kompak-menyanyikan-lagu-berkibarlah-bendera-negeriku-ciptaan-gombloh/">Pimpinan MPR kompak menyanyikan lagu Berkibarlah Bendera Negeriku ciptaan Gombloh</a> pertama kali tampil pada <a href="https://greenbluehub.id">Generasi Lintas Budaya Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span class="style-scope yt-formatted-string" dir="auto">Pimpinan MPR kompak menyanyikan lagu Berkibarlah Bendera Negeriku ciptaan Gombloh. </span></p>
<p><iframe loading="lazy" title="YouTube video player" src="https://www.youtube.com/embed/GGNfq6KdsSI" width="968" height="545" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p><a class="yt-simple-endpoint style-scope yt-formatted-string" dir="auto" spellcheck="false" href="https://www.youtube.com/hashtag/mpr">#MPR</a></p>
<p><a class="yt-simple-endpoint style-scope yt-formatted-string" dir="auto" spellcheck="false" href="https://www.youtube.com/hashtag/hutri75">#HUTRI75</a></p>
<p><a class="yt-simple-endpoint style-scope yt-formatted-string" dir="auto" spellcheck="false" href="https://www.youtube.com/hashtag/berkibarlah">#Berkibarlah</a></p>
<p>Artikel <a href="https://greenbluehub.id/%e2%81%a0studi-greenblue/pimpinan-mpr-kompak-menyanyikan-lagu-berkibarlah-bendera-negeriku-ciptaan-gombloh/">Pimpinan MPR kompak menyanyikan lagu Berkibarlah Bendera Negeriku ciptaan Gombloh</a> pertama kali tampil pada <a href="https://greenbluehub.id">Generasi Lintas Budaya Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Upaya BERSATU Relawan Lintas Budaya Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19</title>
		<link>https://greenbluehub.id/%e2%81%a0studi-greenblue/upaya-bersatu-relawan-lintas-budaya-gugus-tugas-percepatan-penanggulangan-covid-19/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Generasi Lintas Budaya]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Apr 2020 06:15:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[⁠Studi Greenblue]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://greenbluehub.id/?p=6804</guid>

					<description><![CDATA[<p>JAKARTA (greenbluehub.id) – Olivia Zalianty dan Raja Asdi, Koordinator Bersatu Relawan Lintas Budaya, kemarin malam, Jumat, 10/4/2020, bersama LetjenTNI Doni Monardo, Ka Gugus Tugas / Ka BNPB di dampingi staf khus Ka BNPB Egy Massadia, di Graha BNPB. Olivia menyampaikan perihal upaya BERSATU Relawan Lintas Budaya Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19. Juga persiapan launching lagu [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://greenbluehub.id/%e2%81%a0studi-greenblue/upaya-bersatu-relawan-lintas-budaya-gugus-tugas-percepatan-penanggulangan-covid-19/">Upaya BERSATU Relawan Lintas Budaya Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19</a> pertama kali tampil pada <a href="https://greenbluehub.id">Generasi Lintas Budaya Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>JAKARTA (greenbluehub.id) – Olivia Zalianty dan Raja Asdi, Koordinator Bersatu Relawan Lintas Budaya, kemarin malam, Jumat, 10/4/2020, bersama LetjenTNI Doni Monardo, Ka Gugus Tugas / Ka BNPB di dampingi staf khus Ka BNPB Egy Massadia, di Graha BNPB. Olivia menyampaikan perihal upaya BERSATU Relawan Lintas Budaya Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19. Juga persiapan launching lagu donasi &#8220;Corona&#8221; karya Bimbo dan lagu &#8220;Di Rumah Saja Tuhan Menemani&#8221; karya Harry Tjahjono-Krisna Triastantya.<br />
Dalam kesempatan itu, Letjen TNI Doni Monardo menyampaikan terima kasih atas dukungan para pemuka agama, cendekiawan, budayawan , sastrawan, dan seniman lintas keahlian pada upaya penanggulangan Covid-19.</p>
<p>#MaskerUntukSemua<br />
#jagajarak<br />
#BERSATU<img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f1ee-1f1e9.png" alt="🇮🇩" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" />TANGGUH…BERSATU<img src="https://s.w.org/images/core/emoji/17.0.2/72x72/1f1ee-1f1e9.png" alt="🇮🇩" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" />SEMBUH<br />
#tidakmudik</p>
<p>Artikel <a href="https://greenbluehub.id/%e2%81%a0studi-greenblue/upaya-bersatu-relawan-lintas-budaya-gugus-tugas-percepatan-penanggulangan-covid-19/">Upaya BERSATU Relawan Lintas Budaya Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19</a> pertama kali tampil pada <a href="https://greenbluehub.id">Generasi Lintas Budaya Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>RE-SCHEDULING CONTEST ICCC GOI 2019 ANNOUNCEMENT</title>
		<link>https://greenbluehub.id/%e2%81%a0studi-greenblue/re-scheduling-contest-iccc-goi-2019-announcement/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Generasi Lintas Budaya]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Feb 2020 02:09:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[⁠Studi Greenblue]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://greenbluehub.id/?p=6766</guid>

					<description><![CDATA[<p>Due to the number of works received by the Committee from 47 countries. And also considering the committees and judges are located in 5 provinces (DKI Jakarta, West Java, Central Java, East Java &#38; Bali), the Committee will took longer for the judging process. Therefore, the announcement of the winners of the International Cartoon Carricature [&#8230;]</p>
<p>Artikel <a href="https://greenbluehub.id/%e2%81%a0studi-greenblue/re-scheduling-contest-iccc-goi-2019-announcement/">RE-SCHEDULING CONTEST ICCC GOI 2019 ANNOUNCEMENT</a> pertama kali tampil pada <a href="https://greenbluehub.id">Generasi Lintas Budaya Foundation</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Due to the number of works received by the Committee from 47 countries. And also considering the committees and judges are located in 5 provinces (DKI Jakarta, West Java, Central Java, East Java &amp; Bali), the Committee will took longer for the judging process.</p>
<p>Therefore, the announcement of the winners of the International Cartoon Carricature Contest 2019 which was announced on 31 January 2020, will be postponed on 29 February 2020.</p>
<p>The Committee deeply apologizes for the rollback of the schedule. Thank you.</p>
<p>Artikel <a href="https://greenbluehub.id/%e2%81%a0studi-greenblue/re-scheduling-contest-iccc-goi-2019-announcement/">RE-SCHEDULING CONTEST ICCC GOI 2019 ANNOUNCEMENT</a> pertama kali tampil pada <a href="https://greenbluehub.id">Generasi Lintas Budaya Foundation</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
